Kepala Bocor
Saya punya bekas luka di kepala. Tidak hanya satu tapi dua. Dua - duanya punya cerita masing - masing. Begini kisahnya...
Yang pertama adalah bekas benda tumpul, seinget saya balok kayu yang bikin kepala saya bocor. Dari kalimat pembuka mungkin terpikir bahwa saya terlibat baku hantam atau tawuran. Tapi sebenarnya adalah karena perilaku saya saja yang konyol ketika kecil.
Saat itu saya kelas satu SD dan sedang main di lapangan voli. Lapangan volinya berpasir jadi saya main pasir di situ bersama beberapa anak yang lain. Entah apa yang merasuki saya saat itu. Saya ambil balok kayu dipinggir lapangan dan saya lemparkan ke arah net, tindakkan yang cukup pintar bukan. Balok kayu yang terlempar ke arah net sontak langsung kembali ke arah saya setelah menyentuh net. Saya yang tidak tahu apa yang terjadi selanjutnya hanya diam di tempat. Balok yang terlempar di net dengan cepat menghantam kepala saya.
Saya terjatuh dan langsung memegangi kepala saya. Kok basah, pas dilihat ternyata tangan saya bersimbah cairan berwarna merah, kepala saya pendarahan. Saya langsung berlari menghampiri orang tua. Dan orang tua saya panik bukan main sambil bertanya - tanya ini anak habis main apa. Bisa - bisanya kepala samapi bocor. Saya langsung dibawa ke UGD untuk segera ditangani. Saya lupa lukanya dijahit atau diperban yang pasti habis itu saya dimarahin. Dan dari awal kejadian sampai selesai diobatin saya gak nangis karena gak kepikiran aja buat nangis.
Lukanya masih membekas walau sudah samar - samar. Letaknya tepat di tengah kening. Luka kedua kurang lebih letaknya berdekatan dan ini karena kawat berduri. Kejadiannya ketika saya sedang mengikuti kemah nasional di Semarang. Saat malam tiba, di lokasi kemah penerangan memang agak kurang, jadi kemana - mana harusnya membawa senter. Saat itu saya tidak membawa senter dan sedang dalam perjalanan menuju tenda saya. Dalam perjalanan pulang saya hendak memotong jalan dengan melompati parit. Karena gelap dan saya tidak mengamati sekitar langsung loncatlah saya melewati parit. Tak disangka ternyata di depan ada pagar dengan kawat berduri. Pagar bagian bawahnya bolong bisa dilewati, tapi bagian atas masih ada sisa - sisa kawat yang kalau kita tidak menunduk saat lewat sudah pasti akan terkena kepala. Dan kawat tersebut kena kepala saya, rasanya sakit sekali. Dan saya berusaha untuk menguatkan diri sambil segera menuju tenda.
Sesampainya di tenda teman saya kaget melihat kepala saya sudah berlumur darah. Ditanyalah saya habis ngapain, saya jelasin dan baru ngeh juga kalau kepala saya berdarah. Teman saya dengan sigap mengampil kotak P3k dan segera memberi perban kepada kepala saya. Untungnya teman saya perawat jadi dia sangat terampil untuk hal - hal seperti ini. Respect untuk teman saya yang udah mau ngobatin. Dan setelah kejadian itu ketika mengikuti sisa kegiatan pramuka di Semarang, saya selalu menggunakan ikat kepala, selain untuk menutup luka juga agar bisa terlihat bergaya.
Semoga kejadian itu untuk yang terakhir kali,
#HariKeduapuluhSembilan

Komentar
Posting Komentar
komentari bila sempat