Hidup Berkendara
Sebenarnya saya orang yang tidak terlalu pengen - pengen banget punya kendaran. Jalan atau menggunakan transportasi umum masih bisa dijadikan pilihan. Mentok - mentok punya sepeda juga gak apa - apa. Alasannya biar gak nambah polusi aja. Terdengar naif memang, tapi itu yang saya rasakan sejak dulu zaman sekolah.
Ketika pas sekolah peduli dengan isu ini mungkin karena bacaan dan berita tentang pemanasan global, perubahan cuaca yang sering saya baca. Dulu sempat berencana tidak beli kendaraan ketika nanti dewasa dan berkeluarga. Semata - mata atas dasar peduli lingkungan.
Namun saya malah dibelikan motor oleh orang tua. Tetap saya terima dan saya gunakan, walau seringnya ditaroh di kostan dan dipanasin tiap pagi. Kemana - mana saya masih jalan kaki. ke sekolah, musholah, atau beli makanan kalau masih bisa jalan ya ngapain naik motor.
Sampai akhirnya motor itu juga hanya saya urus pas awal - awal saja. Rutin tiap bulan ke tempat service. Seminggu sekali saya cuci. Pas kuliah malah dibiarkan begitu saja. Dipakai sesekali, dan untuk jarak dekat. Mau dipakai jauh pajaknya sudah mati.
Lalu ketika lulus kuliah dan pindah domisili untuk bekerja, saya jual motornya ke teman saya. Terhitung sangat murah jualnya, dibawah 50 % dari harga jual. Karena kondisi motor yang sudah rewel karena jarang di rawat dan pajak yang sudah lewat.
Hasil dari penjualan tersebut saya jadikan modal untuk tinggal di tempat baru. Uangnya saya gunakan untuk keperluan sehari - hari ketika baru - baru kerja dan belum mendapat gaji.
Beberapa bulan bekerja, akhirnya saya wujudkan memebeli sepeda. Tipe Road Bike yang dikhusukan untuk melaju dijalanan aspal yang rata. Saya beli juga selain menghindari mempunyai kendaran bermotor, ini juga untuk saya gunakan ketika triathlon.
Setelah triathlon, ternyata saya malah jarang menggunakan sepeda. Kemana - mana lebih sering pinjem motor kawan kalau ada kesempatan. Akhirnya sepeda tersebut saya hibahkan ke adik saya. Lumayan sering kepake jadinya. Ayah dan adik saya bergantian menggunakannnya.
Seringnya nonton motovlog dan touring - touring di Youtube. Keinginan beli motor saya malah muncul. Ingin punya motor classic tapi produksi terbaru, agar mudah ngerawatnya. Jadilah saya mencari motor yang pas untuk saya.
Semulanya yang tidak ingin punya kendaraan dengan mudah saya abaikan di masa sekarang. Karena pilihan moda transportasi di sini yang tidak selengkap jakarta. Mengandalkan layanan transportasi online juga mengeluarkan biaya. Jadi punya kendaraan bermotor menjadi sebuah kebutuhan. Apalagi motor ini juga untuk menyambangi teman saya yang sudah pindah nun jauh disana.
Sudah punya motor juga gak yang terlalu gimana - gimana. Kadang ada enak gak enaknya. Enaknya bisa kemana aja. Gak enaknya harus beli bensin lagi, biaya service rutin, steam motor dan biaya pajak motor yang harus dibayarkan. Jadi tambah ribet.
Tapi tetap bersyukur dengan apa yang sudah saya dapatkan.
Masih tetap jalan kaki bila lokasi yang ditempuh masih bisa dipake jalan. Karena ya ngapain juga naik motor kalau deket.
#HariKeLimaPuluhTujuh

Komentar
Posting Komentar
komentari bila sempat