Air Terjun Manjang Merah


Minggu diajak pergi ke tempat air terjun di daerah Riau Silip, Bangka. Awal - awal masih ragu buat ikut, soalnya minggu enakkan rebahan. Tapi akhirnya saya iyakan ajakan teman saya itu.

Berangkat pukul 6 pagi, saya sudah bangun dari jam 3. Hal ini sudah biasa terjadi tiap ada plan besoknya mau pergi ke suatu tempat yang jauh. Jam setengah 6 jalan ke titik kumpul untuk ketemu yang lain. 

Pas ketemu saya lihat mereka membawa tas ransel yang kiranya membawa perlengkapan lumayan banyak. Saya sendiri hanya bermodalkan pakaian yang saya kenakan. Karena tidak tau seperti apa medan yang akan dilalui, saya pikir keep it simple aja bawaanya.

Karena melihat yang lain bawaannya banyak, sayapun segera kembali ke kostan untuk membawa perlengkapan seperti yang lain. Baju, celana, handuk, tempat makan, snack, dan minum dua botol saya masukkan langsung ke tas. Buru - buru langsung ke titik kumpul karena yang lain sudah menunggu.

Kami berangkat dengan menggunakan motor. Ada 5 motor yang berangkat. Dan kali ini partner motoran saya adalah Ko Ahon. Koko yang umurnya lumayan jauh di atas saya tapi perangainya seperti masih kelihatan muda. Dalam perjalanan kita berbicara seputar kehidupan, minimalisme dan peduli tentang lingkungan. Lumayan berat obrolan di minggu pagi yang sejuk itu. Tapi seru. 


Kami menuju ke arah Sungailiat. lalu lurus terus setelah melewati sungai liat. Sejam perjalanan kami belok kiri dipertiga-an. Jalan mulus nan berkelok - kelok ditambah udara pagi yang sejuk membuat perjalanan sangat amat nyaman. 

Setelah sampai di daerah Riau Silip, kami pun berhenti di rumah makan untuk beli nasi bungkus. Karena mendekati lokasi air terjun sudah tidak ada yang jualan. Lanjut jalan kurang lebih 30 menit sampailah di belokkan masuk kearah hutan - hutan.

Jarak yang sebenarnya dekat dari jalan besar menuju lokasi parkir, tapi terasa berat karena jalanan yang berlumpur. Niat biar sepatu enggak kotor sulit untuk dihindarkan. Karena mau gak mau harus nginjek becekan untuk menyeimbangkan motor saat melalaui jalan tersebut.

Sampai diparkiran, beberapa dari kami sudah gati baju salin dan menyemprotkan autan disekujur tubuh. Karena nyamuknya lumayan banyak. Masuklah kami ke hutan untuk trekking ke air terjun. Karena untuk ke lokasinya hanya bisa dilalui dengan jalan kaki. Motorpun kami tinggal.

Normalnya untuk sampai ke air terjun dibutuhkan waktu 30 menitan saja, tapi karena kami banyak berhenti untuk foto - foto jadinya satu jam lebih baru sampai di lokasi. Trek yang kami lalu lumayan menantang, ada beberapa jalur yang butuh ekstra hati - hati saat dilalui karena licin dan curam. Tapi sekiranya masih bisa dilewati jalanan tersebut.



Sesampainya di lokasi saya lumayan cukup impress dengan air terjunnya. Karena bagus. Dengan tinggi kurang lebih 8 meter dan tiap 2 meter ada undakannya kayak anak tangga, ditingkatan bawah ada kolam untuk berendam dan dipaling atas juga ada kolam. Jadi kita bisa berendam di dua tempat. Untuk sampai ke atas perlu hati - hati untuk menaikinya. Karena batu - batu yang licin dan pijakkan yang terbatas.

Beberapa dari kami tidak langsung nyebur, tapi mencari tempat untuk makan nasi bungkus yang kami beli. Saat makan hujan turun. Nasi kami ketambahan kuah air hujan, berteduh sebisanya dibawah rindang pohon tapi tetap saja kena cipratan air hujan.

Selepas makan, langsung berndam di kolam yang ada. Sambil mengistirahatkan kaki yang mulai berasa pegal abis trekking tadi. Banyak kegiatan yang kami lakukan saat di air terjun. Ada yang hanya berendam atau punggungnya dihadapkan dibawah air tejun biar berasa dipijet. Ada yang buat kopi. Ada yang masak indomi. Dan ada juga yang duduk - duduk di pinggir sambil ngelihatin yang lain.




Kami menghabiskan waktu berjam - jam di air terjun dan baru turun sekitar pukul 3 sore saking menikmatinya di atas sana.

Perjalanan yang cukup menyenangkan, untung saya jadi ikut berangkat. 



#HariKeEnamPuluhEnam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makan Nasi

Makan Makan

Nasi Goreng