Salam Kemudian Kenalan
Terlihat sorot matanya ragu. Ah mungkin malu, pikirku.
Ku sapalah dan beramah tamah sambil berbalas senyum.
Sungguh mengindahkan duniaku.
Berlebihan memang, tapi begitu adanya.
Berpapasan dan kau melempar senyum. Ku tak berdaya nyaris
salah tingkah.
Berlalu lah diriku, karena tak tau harus berkata apa.
Ku tanya nomor telepon mu, tapi lewat temanku.
Ternyata diriku secupu itu.
Ku sapa dirimu lagi namun lewat pesan singkat.
Kau membalas.
Syukurlah.
Kalau tidak, pupuslah sudah.
Hubungan kita berlanjut.
Namun sebatas obrolan melalui pesan singkat.
Dirimu banyak bertanya ini itu.
Akupun berusaha menjawabnya.
Lalu ku ajak jalan. Tapi dirimu beralasan.
Itu adalah penolakan secara halus.
Mungkin memang harus dicukupkan.
Hubungan itu ternyata hanya berlangsung dipikiran.
Ya pikiranku saja.
Nyatanya dia hanya orang yang sekedar ramah.
Tidak ada yang salah menjadi ramah.
Ah ternyata rasa percaya diriku saja yang terlalu besar.
Atau kata lainnya GE ER.

Komentar
Posting Komentar
komentari bila sempat