Hal-hal tentang Lari yang Terpikir

(Jintenk bagian 2)



Hari demi hari berlalu, semenjak saya memantapkan tekad untuk mengikuti jintenk. Walaupun sampai saat itu masih belum tau apakah jintenk akan diadakan atau tidak. Saya pun mulai berlatih. Saya berlatih setiap saya lagi mood buat lari. Jadi tidak konsisten. Suatu permulaan yang tidak begitu baik memang bagi orang yang bertekad menjadi 1000 orang finisher pertama dari 10000 peserta. Saya masih beranggapan bahwa fisik saya masih mumpuni untuk melakukan hal tersebut, Karena semenjak sekolah menengah atas sudah terbiasa untuk lari. Lari eaktu zaman sekolah selain sebagai kewajiban setiap pagi, juga sebagai salah satu bentuk punishment. 
Saya berlatih pada sore atau pagi hari tergantung sempatnya kapan. Saya lari di sebuah taman  yang memiliki trek lintasan 200 meter bila dikelilingi atau setara 0,2 KM. Kenapa saya bisa tau? karena sebelum saya lari saya mengecek dengan aplikasi running runtastic 
Saat itu untuk mengukur seberapa jauh saya lari, saya hanya mengandalkan hitungan manual. Belum seperti sekarang menggunakan aplikasi running nike+ .Tapi kenapa tadi mengukur menggunakan aplikasi running? ya, saya punya aplikasi running di smartphone, tapi rasanya terlalu merepotkan kalau lari sambil bawa-bawa handphone. Kenapa tidak menggunakan tempat handphone yang dililitin lengan (armband)? karena saat itu saya belum punya dan males belinya, karena terlihat seperti lari hanya untuk gaya-gayaan. Lari mah lari aja gak usah pake bawa handphone. Walau pada akhirnya saya menyadari bahwa fungsi handphone juga bisa diandalkan untuk menjadwal latihan dan memperhitungkan hasil latihan, serta mencatat exercise.
Saya pun berlatih dan menghitung manual. Dalam arti, jika saya lari 1KM, saya perlu lari mengelilingi taman kembang sepatu sebanyak 5 kali (5x0.2KM=1KM). Sore itu saya berlatih untuk pertama kalinya. Dan saya hanya mendapat 4 putaran dan sudah ngos-ngosan. Itu berarti hanya 800 meter.
Naif sekali, Karena diawal saya berpikir terlalu optimis bahwa fisik dan stamina saya mampu lari 10KM, tapi kenyataannya saya hanya mampu 1/12 nya saja. Saya menyadari stamina saya turun jauh sekali dibanding zaman sekolah dulu. Pantas saja lari-lari sebentar nafas sudah ngos-ngosan. entah akibat jarang olahraga atau pola hidup yang berbeda.
Saya lari 2 hari sekali atau kadang 3 kali sehari, agar ada waktu sehari dua hari untuk istirahat. Atau terkadang seminggu tidak lari sama sekali karena kesibukkan kuliah. Kondisi ketika lari di minggu - minggu berikutnya juga tak lebih bagus. Karena kadang jarak yang saya tempuh ketika berlari stuck di 2,5 kilometer atau kadang malah dibawah itu. Saya tidak berharap lebih memang, dengan pola latihan yang semau saya dan lari sesuka saya. Hasil yang didapat pun tidak maksimal. Saya tidak terlalu frustasi dengan keadaan tersebut, karena saya masih menikmati setiap prosesnya, saya menikmati larinya dan feel ketika lari.
Saya juga mencoba riset kecil-kecilan dengan mencari tau tentang seluk beluk lari. Cara lari yang baik seperti apa, ternyata ada teknik-tekniknya. Lalu tentang istilah di dunia lari seperti, personal best, pace, pacer, interval, marshall, racepack, COT atau cut off time, dll. Tentang gear atau perlengkapan lari, dari sepatu, compression atau lejing, armband, jam tangan untuk tracking lari, dll.

Lalu juga tentang event race yang akan dihelat. Beberapa race yang notabene harus bayar sempat membuat saya tertarik untuk berpartisipasi. Diantaranya Amazinc trail Run di Pasuruan, Pocari safe running, Komando Run, dan JWNCR. Konsep ikut lomba lari dengan biaya registrasi, memang terdengar agak gimana gitu buat saya. Bayar mahal-mahal cuman buat lari, terus dapat capek keringat dan souvenir dari eventnya, yang berupa jersey sama medali. Belum tentu bisa dapat podium dengan hadiah jutaan rupiah. Anda harus menghadapi beberapa atlet yang sudah terlatih.

Lari adalah olahraga yang murah sekali
Saya baru sadar bahwa lari saat ini bukan hanya sekedar hobi tapi sudah menjadi gaya hidup bagi sebagian orang. Ada orang yang kemana-mana selalu menggunakan sepatu running demi menunjukkan identitas sebagai seorang pelari. Atau menggunakan jersey event race seperti kaos finisher tee atau jersey komunitas demi mengukuhkan dirinya sebagai seorang yang gemar berlari. "Lihat nee gue anaknya lari banget". Ya itu merupakan sebagian orang, toh gak ada yang salah juga dengan selalu berpakaian jersey lari dan sepatu running karena mungkin saya juga salah satu orangnya.

Alasan para penggiat lari mengikuti race ternyata bukan hanya sekedar untuk eksis. Hmm tapi mungkin itu salah satunya. Alasa lainnyanya selain untuk eksis, dengan mengikuti lomba-lomba lari juga sebagai ajang untuk berkumpul satu komunitas dengan komunitas lainnya. Juga atmosphere yang didapat ketika race itu berbeda. Dan menurut saya bikin ketagihan. Karena rasanya adrenalin lebih terpacu dan menimbulkan rasa kompetitif. Rasa ingin menjadi yang tercepat dan terdepan. Tidak mesti lebih cepat dengan mengalahkan orang lain tapi lebih cepat dengan mengalahkan diri sendiri.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makan Nasi

Makan Makan

Nasi Goreng