Postingan

Menampilkan postingan dari Oktober, 2018

Hal-hal tentang Lari yang Terpikir

Gambar
(Jintenk bagian 2) Hari demi hari berlalu, semenjak saya memantapkan tekad untuk mengikuti jintenk. Walaupun sampai saat itu masih belum tau apakah jintenk akan diadakan atau tidak. Saya pun mulai berlatih. Saya berlatih setiap saya lagi mood buat lari. Jadi tidak konsisten. Suatu permulaan yang tidak begitu baik memang bagi orang yang bertekad menjadi 1000 orang finisher pertama dari 10000 peserta. Saya masih beranggapan bahwa fisik saya masih mumpuni untuk melakukan hal tersebut, Karena semenjak sekolah menengah atas sudah terbiasa untuk lari. Lari eaktu zaman sekolah selain sebagai kewajiban setiap pagi, juga sebagai salah satu bentuk punishment.  Saya berlatih pada sore atau pagi hari tergantung sempatnya kapan. Saya lari di sebuah taman  yang memiliki trek lintasan 200 meter bila dikelilingi atau setara 0,2 KM. Kenapa saya bisa tau? karena sebelum saya lari saya mengecek dengan aplikasi running runtastic  Saat itu untuk mengukur seberapa jauh ...

Serba Serbi Jintenk

Gambar
(Jintenk bagian 1) Jakarta International 10 K atau yang lebih sering disebut jintenk adalah lomba lari internasional di jakarta dengan jarak 10KM. Event ini merupakan salah satu race yang paling ditunggu-tunggu tiap tahunnya. Tidak terkecuali saya, yang notabene adalah pelari pemula atau terkadang sering dipandang sebagai seseorang yang hanya ikut-ikutan tren saja. Anggapan seperti itu tidak akan saya sangkal, toh saya mengikuti tren yang positif. Kembali tentang jintenk, race ini diselenggarakan oleh disorda atau dinas olahraga daerah dalam hal ini pemprov DKI jakarta, diadakan sebagai rangkaian acara HUT DKI Jakarta. Race ini diselenggarakan pertama kali tahun 2004, berarti sudah 12 tahun race ini berjalan. Dan Milo telah menjadi sponsor tetap beberapa tahun lalu. Demikian sejarah singkat tentang jintenk. Seperti yang saya katakan sebelumnya, jintenk ini adalah salah satu race yang paling ditunggu-tunggu tiap tahun. Kenapa? Karena memiliki nilai plus y...

Salam Kemudian Kenalan

Gambar
Terlihat sorot matanya ragu. Ah mungkin malu, pikirku. Ku sapalah dan beramah tamah sambil berbalas senyum. Sungguh mengindahkan duniaku. Berlebihan memang, tapi begitu adanya. Berpapasan dan kau melempar senyum. Ku tak berdaya nyaris salah tingkah. Berlalu lah diriku, karena tak tau harus berkata apa. Ku tanya nomor telepon mu, tapi lewat temanku. Ternyata diriku secupu itu. Ku sapa dirimu lagi namun lewat pesan singkat. Kau membalas. Syukurlah. Kalau tidak, pupuslah sudah. Hubungan kita berlanjut. Namun sebatas obrolan melalui pesan singkat. Dirimu banyak bertanya ini itu. Akupun berusaha menjawabnya. Lalu ku ajak jalan. Tapi dirimu beralasan. Itu adalah penolakan secara halus. Mungkin memang harus dicukupkan. Hubungan itu ternyata hanya berlangsung dipikiran. Ya pikiranku saja. Nyatanya dia hanya orang yang sekedar ramah. Tidak ada yang salah menjadi ramah. Ah ternyata rasa percaya diriku saja yang terlalu besar....

Maghrib

Gambar
Menanti senja dengan lamunan di segelas kopi hangat. Senja yang menenangkan dan kamu yang membuatku terkenang. Matahari yang pergi, merelakan keindahan di atas perpisahan. Halah masih saja diksi yang itu – itu saja. Senja, sendu, sepi dan secangkir kopi semua orang bercerita dengan kata yang sama. Kata senja yang terlalu di eksploitasi. Terpesona akan keindahan senja. Bagi saya senja itu saat nya bersiap – siap untuk shalat maghrib. Tidak usahlah lama berleha – leha dalam buaian senja. Sebab ada hal yang harus di tunaikan kepada sang pencipta.

Tunduk oleh Layar

Gambar
Melihat lini masa membuat saya jenuh. Tapi kadang menjadi candu yang membunuh. Komentar yang sarat akan kebencian membuat saya mengerenyitkan dahi. Saya tutup lini masa, dan layar gawai. Namun beberapa saat kemudian saya buka kembali. Untuk mencari kebahagiaan semu di dunia maya. Terulang lagi. Begitu terus sampai mati.