Saya Baru Sadar Ternyata Saya Minimalis
Berawal dari unggahan saya di twitter, foto sepatu nike pegasus 33 yang saya kenakan di hampir setiap kesempatan. Mulai dari lari, jalan, hang out, sampai ke kondangan dan akhir - akhir ini saya pakai buat kerja di lab. Dan salah satu teman membalas unggahan tersebut dengan komentar "minimalism". Lalu muncul di pikiran saya ternyata saya sudah hidup minimalis sebelum saya tau minimalis itu apa.
Saya pertama mendengar kata minimalism waktu awal - awal denger podcast tahun 2016 ada judul podcast namanya The Minimalists yang di mention di podcast subjektifnya Iqbal Hape. The Minimalists ini salah satu podcast yang masuk jajaran top podcast di luar. Walau begitu saya tidak tertarik untuk mendengar podcast-nya simple karena bahasa inggris. Sampai akhirnya nemu dokumenter di Netflix dengan judul "Minimalism (A Documentary About The Important Things)"
Sesuai judul, dokumenter ini menceritakan tentang bagaimana hidup minimalis dan perjalanan Joshua Fields Millburn dan Ryan Nicodemus memulai itu semua. Hidup minimalis berarti menyederhanakan standar hidup namun artinya bukan menjadi orang yang tidak mampu. Memilih dan memilah barang - barang yang berharga di hidup kita. Seperti yang di lakukan Joshua Fields Millburn 'membuang' televisi, dvd player hingga lukisan yang menghiasi rumah nya, lalu pindah ke tempat yang lebih kecil. Karena dia menyadari semua barang - barang tersebut tidak menambah value bagi hidupnya. Sederhananya dia kurang bahagia dengan semua barang itu.
Dokumenter yang sangat mencerahkan bagi saya. Karena pada momen itu saya lagi konsumtif - konsumtifnya. Selang beberapa bulan baru beli kendaran baru, gadget dan beberapa hal yang saya beli. Saya membeli barang masih dengan prinsip what you need not what you want. Tapi saat itu benar - benar saya merasa terlalu banyak menghabiskan uang dalam waktu singkat. Saya sadar mulanya darimana. Dari seringnya saya membuka sosial media. Melihat feed yang terisi tempat liburan yang eksotik sampai barang - barang keren seperti sepatu, gadget, motor dan lain - lain. Serta muncul iklan - iklan yang cukup menggoda. Hasrat untuk mengikuti apa yang di lihat sulit untuk di bendung. Ingin ini ingin itu banyak sekali.
Awalnya ngawang - ngawang si dengan konsep hidup minimalis. Kesannya zen, tenang, damai sangat filosofik. Tapi dapat gambaran setelah nonton dokumenter tersebut. Ya sama seperti tiap manusia pada umumnya, mencari tujuan hidup dan apa yang membuatnya bahagia, semuanya punya cara masing - masing. Hidup minimalis merupakan salah satu cara tersebut bagi yang meyakininya.
Saya baru tahu juga kalau hidup minimalis ini lagi ramai di gandrungi kaum milineals beberapa tahun terakhir di US dan Jepang. Di Indonesia tanda-tanda adopsi gaya hidup minimalis juga mulai terlihat. Terdapat sejumlah orang yang mempromosikan gaya hidup ini dalam blog atau vlog mereka. Dan seorang Raditya Dika yang sudah tidak asing lagi di jagat hiburan Indonesia juga menganut gaya hidup minimalis seperti yang dia sampaikan di video youtube nya.
Jadi apa benar saya minimalis tanpa saya sadari? hanya karena saya mengenakan sepatu yang itu - itu saja di berbagai kesempatan. Jawabannya bisa iya bisa tidak. Untuk sepatu saya hanya punya 2 pasang saat ini sepatu lari yang sebutkan di awal dan sneaker shoes nya geoffmax dengan bahan kulit dan berwarna hitam jadi bisa saya gunakan acara resmi atau sehari - hari kerja. Dalam hal pakaian saya termasuk orang yang jarang membeli pakaian baru. Dan pakaian wisuda saya ketika lulus kuliah adalah setelan sama yang saya kenakan pada saat kelulusan sekolah menengah. Kemeja putih, dasi hitam, celana bahan warna hitam, pantofel serta jas boleh minjem. Tapi sekarang udah gak pas karena badan saya yang terus bertumbuh. Sebelum beli motor saya orang nya jalan kaki banget atau nebeng, dan masih bisa survive dimanapun berada. Beberapa aspek tadi juga terjadi ya karena keadaan. Saya bukan orang yang bergelimang harta tapi sangat bersyukur diberi kecukupan oleh yang Maha Kuasa.
Intinya saya sama saja seperti yang lain. Hidup seperti yang saya ceritakan diatas juga saya yakin di alami orang lain. Jadi mengklaim diri saya minimalis juga sah - sah saja sampai saya jadikan judul di tulisan ini. Tapi toh pelabelan seperti itu bukan gaya saya. Sama seperti label seorang runner dengan gaya hidup sehat hanya karena saya sering lari untuk mengisi waktu senggang atau label alim dan bisa mimpin doa hanya karena saya kadang terlihat sholat berjamaah di masjid. Semua sama derajatnya di hadapan Allah SWT yang membedakan hanya Iman dan Takwa.
Akhir kata saya mau mengutip kutipan dari dokumenter "Minimalism (A Documentary About The Important Things)" yang gak bisa lepas dari pikiran saya selepas nonton dokumenter tersebut.
Komentar
Posting Komentar
komentari bila sempat