Berlagak Dewasa

           


Di umur belasan saya membayangkan diri saya ketika umur 20an atau 30an menjadi seorang yang berbadan tinggi, dewasa dan karismatik. Sekarang kalau dilihat-lihat tinggi badan saja masih dibawah rata - rata untuk ukuran pria di Indonesia. Dan umur segini tentu sulit untuk bertambah tinggi. Gimana saya mau keterima akpol atau akmil ni haha. Si yang umurnya masih bisa daftar. 

Mau minum sebanyak apapun susu Hi-Lo atau berenang tiap hari yang didapat malah perut kembung sama kulit bersisik kena kaporit. Jadi ya sudahlah, sekarang bukan masalah, mau tinggi atau enggak tidak mempengaruhi kualitas pribadi saya sebagai seorang individu.

Selanjutnya menjadi dewasa. Ada yang bilang dewasa itu bukan perkara umur, dan saya setuju. Orang bisa aja udah dewasa di masa remaja, kayaknya kebanyakan gaul sama bapak-bapak wise tu doi, jadi kebawa. 

Dewasa menurut saya bentuk kematangan dari pola pikir seseorang dalam bertingkah laku. Orang dewasa gak ada tu tiba-tiba check out shopee karena lagi bm, atau ngelempar kesalahan ke orang lain, bikin keputusan sendiri tanpa memperdulikan orang lain, lari dari tanggung jawab dan lain sebagainya. Kalau perkara tiba-tiba check out shopee dianggap gak dewasa remeh juga ya haha. 

Oh iya satu lagi orang dewasa kalau ketawa gak wkwkwk. 

Saya sendiri merasa belum bisa dikatakan dewasa, tapi males juga kalau dibilang masih kekanak-kanakan. Saya lebih suka mengklaim diri saya sedang bertumbuh dan berproses. 20 tahunan hidup banyak yang ditemui dan dilalui menambah perspektif baru akan berbagai hal. Proses naik turun pasang surut yang dijalani mungkin masih belum seberapa dengan apa yang akan dihadapi kedepannya. Jadi ya nikmati saja.

Banyak masalah atau kejadian lampau yang baru bisa saya maknai sekarang-sekarang. Oh maksudnya begitu. Memang ya seiring bertambahnya umur dan hal yang dihadapi jadi mengubah cara kita memandang sesuatu.

Melenceng dikit dari topik, ini sama kayak pas dengerin lagu atau rewatch film yang ditonton pas zaman sekolah atau kuliah saya ngertinya baru sekarang. Oh maksud film 500 days Summer itu kita jangan terperangkap dalam pikiran kita sendiri tentang cinta. Just becasuse she likes the same bizzaro crap you do, doesn't mean she's your soulmate. Belajar merelakan, grow up dan move on. Dulu pas pertama nonton mikirnya 'fak dasar Summer brengsek' hahaha.

Lanjut ke saya yang kepengen jadi karismatik, narsis juga ya. Alih-alih menjadi sosok karismatik saya malah mejadi orang yang poblematik haha. Beberapa hal malah merepotkan diri sendiri. Padahal bisa saja hidup nyaman tentram dekat keluarga gak perlu bayar uang sewa atau bingung cari makan. Saya malah melanjutkan perantauan selepas kuliah. Tapi namanya masalah bakal tetap ada aja mau dimanapun berada. Yang beda mungkin support system yang didapat.

Walau gambaran hidup 20an yang mau jalan ke 30an ini tidak sesuai bayangan, gak perlu disesali untuk yang udah terjadi dan gak perlu dipusingkan untuk hal yang belum tentu kejadian. Hidup ya dijalani kedepan dan dipahami ke belakang.


kepikiran nulis beginian karena lagunya idgitaf yang takut tambah dewasa, aku takut kecoa kecewa~


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makan Nasi

Makan Makan

Nasi Goreng