Lumia dan Saya

Langit sore itu mengelabu begitu juga dengan perasaan ku. Jalanan dipenuhi dengan ramainya kendaraan yang sebagaian besar hendak bertemu garasi rumah. Butirain air turun satu persatu dari langit. Namun tak dihiraukan kendaraan – kendaraan itu. Di sudut lain jalan Saya menggenggam erat dia, sebelum berpisah dan dia jatuh digenggaman orang lain.

Saya tatap sekali lagi dan masih tampak berseri seperti sejak pertama kali bertemu. Layar yang dilapisi Corning Gorilla Glass 2 membuatnya lebih awet. Kamera yang indah dengan lensa Carl Zeiss dan teknologi pureview membuat hasil gambar yang jelas.


Saya masih ingat dengan suara yang halus bernada rendah. Perlu menggunakan headset untuk mendengarkan detail suara karna fitur Dolby sound for headsetnya.

Tampilan yang berseri berkat layar IPS selalu berhasil membuat saya terpana.

Tapi, tidak ada yang sempurna..

Sering kali memanas ketika saya berinteraksi terlalu lama. Begitu juga baterai yang saat ini terlalu sering minta disuapi daya listrik. Karena sistem operasi yang telah berganti dari windows 8.1 menjadi windows 10. Cantik memang, namun tenaga yang diperlukan untuk menopang sistem tersebut terlalu besar.

Tiba – tiba langkah seseorang mendekati saya dan membuyarkan lamunan saya.

Ternyata orang tersebut yang minat dengan gawai ini. Bagaimanapun setiap perjumpaan pasti ada perpisahan. Dan tibalah saatnya saya berpisah dan merelakan gawai favorit saya ini.

Saya lepaskan genggaman dan memberikan kepada orang tersebut. Orang tersebut tampak berbinar sama seperti saya ketika pertama kali berjumpa.

Dan akhirnya resmi sudah saya melepaskan dan merelakan gawai favorit kepada orang tersebut.
Begitu banyak kenangan yang saya jalani. Dimana saya hampir menyerah memiliki gawai tersebut namun akhirnya berdamai lagi dengan keadaan dan saya kembali menerima dia apa adanya.

Hari – hari bersama gawai tersebeut begitu berkesan karena begitu unik berbeda dengan kebanyakan gawai lain. Dengan bangga saya menunjukkan kepada orang – orang bahwa saya memiliki gawai tersebut.

Namun kini saya dan gawai tersebut seperti sepakat untuk berpisah. Bapaknya -microsoft- yang seperti tidak peduli dengan pengembangan dan dukungan terhadap aplikasi dan update-an membuat saya harus berpisah.

Saat itu saya hanya bisa bergumam dalam hati sambil melambaikan tangan.

Selamat jalan Lumia 920, baik – baiklah di dunia luar sana :')

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Makan Nasi

Makan Makan

Nasi Goreng