Analis itu apa?
“Kuliah dimana?” Tanya seseorang.
“Di Poltekkes”.
“Jurusan apa ?” dia bertanya
lagi.
“Mmm… Analis Kesehatan” terlihat
raut muka yang masih belum puas dengan jawaban saya namun dipaksakan mengerti
dan seakan – akan dia masih bertanya - tanya tentang apa itu analis kesehatan.
Lalu saya berkata lagi “Tau
pemain gitar kan? Nah pemain gitar disebut gitaris, kalo pemain piano disebut
pianis, pemain bass disebut bassis. Nah kalo analis tau dong mainin apa?”
"Fak analis seriusan mainin anal?"
"..."
"ya enggaklah mas bro".
"Fak analis seriusan mainin anal?"
"..."
"ya enggaklah mas bro".
Lalu saya jelaskan secara
detail apa itu analis kesehatan.
~~~
Sudah tak terhitung berapa kali
saya menjelaskan tentang apa itu analis dengan analogi – analogi berbeda tiap
kalinya dengan harapan lebih mudah mengerti.
Begitu bingung memang ketika
pertama kali kuliah dan mengambil jurusan yang tidak diketahui banyak orang,
bahkan beberapa teman saya tidak tahu sama sekali tentang analis pada mulanya.
Sebagian besar teman saya yang
kuliah jurusan analis adalah karena ada orang tua, saudara, tetangga, atau
saudara tetangganya yang berprofesi jadi analis. sehingga dia ‘dituntun’ kearah
tersebut, menjadi seorang analis.
Begitu juga dengan saya yang
diarahkan orang tua saya untuk menekuni jurusan tersebut.
Dengan tanpa riset apapun
mengenai analis saya langsung mengiyakan tawaran orang tua saya untuk memilih
jalan analis ini.
Awalnya saya pikir analis
kesehatan adalah orang yang menganalisa kesehatan sesimpel itu.
Tapi pelajarannya gak sesimpel yang saya pikir. Ada banyak macam yang dipelajari, dari ilmu – ilmu terkait metabolisme
tubuh, tentang darah, tentang tubuh manusia, tentang parasit, bakteri, virus,
jamur sampai kimia makanan dan minuman. Dan pelajaran terakhir, kimia makanan dan minuman itu jarang digunakan dipekerjaan kalau ditempatkan di Rumah sakit, klinik atau puskesmas.
Dulu gak pernah kepikiran kalau prakteknya sampai ngambil
darah, meriksa urine, dahak, feses, sperma, ngintip – ngintip bakteri lewat
mikroskop dan segala hal yg mengindikasikan adanya penyakit dalam tubuh, untuk menunjang diagnosis suatu penyakit.
Kaget?
Pasti.
Saya ikuti pelan - pelan sampai bisa beradaptasi.
Pasti.
Saya ikuti pelan - pelan sampai bisa beradaptasi.
~~~
Ketika awal masuk kuliah
diperkenalkan lagi dengan nama baru dari analis.
Yaitu MLT kependekan dari Medical
Laboratory Technology.
Alasannya adalah untuk mengikuti
nomenklatur secara internasional karena di tiap Negara, profesi analis memiliki
nama yang berbeda- beda.
Misal di amerika lebih dikenal
dengan MLS atau Major League Soccer, enggak deng. Medical Laboratory Scientist tepatnya.
Dan makin kesini di Indonesiakan
menjadi TLM/ATLM Ahli Teknologi Laboratorium Medis.
Menurut saya perubahan nama ini
sah - sah saja bila tujuannya untuk kebaikkan profesi.
Tapi bagi saya PR lagi untuk kembali menjelaskan ke orang – orang apa itu TLM. Karena tiap lebaran pertanyaannya seputar itu - itu saja.
~~~
Bagaimanapun menjadi seorang
Analis Kesehatan atau MLT atau TLM atau apalah penyebutan namanya tidak merubah
esensi dari profesi tersebut intinya sama yaitu menolong orang dengan menunjang
diagnosis suatu penyakit.
Maka dari itu menjadi seorang analis
membutuhkan etika, sikap professional dan kepedulian yang tinggi.
Dan sekarang saya sudah bekerja menjadi analis. Anehnya saya cukup menikmati pekerjaan saya.
Semoga profesi analis ini lebih sejahtera kedepannya.
Viva La Tech Lab!
Dan sekarang saya sudah bekerja menjadi analis. Anehnya saya cukup menikmati pekerjaan saya.
Semoga profesi analis ini lebih sejahtera kedepannya.
Viva La Tech Lab!


Komentar
Posting Komentar
komentari bila sempat